Rabu, Januari 28, 2009

Lima Pokok Al-Qur'an



Al Mahawir Al Khamsah Li Al Quran Al Karim

Muhammad Al Ghazali (1917 – 1996) siapa yang tidak mengenalnAya di dunia islam dan khususnya timur tengah ,seorang dai dan pemikir yang karangan – karangannya telah memperkaya khazanah perpustakaan islam. Ia terkenal dengan dakwahya yang begitu banyak menyoroti kelemahan kelemahan umat islam dan dalam waktu bersamaan ia pun bisa berdakwah begitu menyentuh dan membangkitkan kesadaran umat islam.

Karya Al Ghazali begitu banyak hingga mencapai 60 karya tulis, salah satu karyanya yang terkenal adalah Al Mahawir Al Khamsah Lil Quran Al Karim. Karya ini membuktikan bahwa Al Ghazali memiliki perhatian yang cukup serius dalam bidang kajian Al Quran dan tafsir, disamping karyanya yang serupa yakni Nahwa Tafsir Maudhui dan Nazharat fi Alquran. Karya Al Mahawir Al Khamsah lebih tepat disebut sebagai pengantar untuk memahami karyanya dalam bidang tafsir yaitu nahwa tafsir maudhui. Tafsir maudui yang dimaksud Al Ghazali ini adalah memahami pesan -pesan utama yang ada di dalam setiap surat dan semangat yang terkandung didalamnya. Sehingga setiap surat tidak ditafsirkan secara urut ayat tetapi hanya menarik benang merah yang ada didalamnya, sehingga nampak jelas apa sesungguhya pesan utama yang ada dalam setiap surat yang ada di dalam Al Qur'an.

Menurut Al Ghazali ada lima fokus pembahasan yang sering dan paling penting yang terdapat dalam Al Quran. Pertama adalah Allah Al Wahid, Allah Maha Esa. Kedua, Alam semesta, Al Kaun yang menunjukkan adanya sang penciptanya. Ketiga, kisah –kisah Al Quran. Keempat, kebangkitan dari kubur dan adanya pembalasan, al baa'st wa al jaza'. Kelima, aspek pendidikan dan tasyri'.

Allah Al Wahid, Allah Maha Esa merupakan fokus pembahasan yang banyak dan paling penting yang disampaikan Al Quran. Oleh karena itu kita melihat ayat - ayat Al Quran menolak konsep banyak tuhan atau syirik. Menurut Al Quran tuhan tuhan yang disembah selain Allah adalah nama –nama hasil rekayasa manusia. Allah-lah Maha Esa.Tempat bergantung semua makhluk, tidak beranak dan diperanakkan dan tiadak ada satupun yang menyamainya (QS Al Ikhlas : 1 – 4 ). Dialah pencipta segala sesuatu ( QS : Az – Zumar :62 ). Dua ayat diatas cukup jelas mengenai konsep ketuhanan dalam Al Quran. Ia menolak segala konsep trinitas , syirik dan tidak percaya tuhan (Mulhid, komunis), Untuk membuktikan Allah itu Maha Esa menurut Al Ghazali sangatlah banyak dalam Al Quran, akan tetapi dalam sejarahnya umat islam justru sibuk membuktikan keesaan Allah melalui metode filsafat yunani yang mendominasi pemikiran kalam islam. Seandainya umat Islam mengambil konsep akidah mereka dari Al Quran saja tentu mereka akan bebas dari keruwetan filsafat yunani (hlm, 13). Disamping itu Al Quran juga menolak segala bentuk syirik bahkan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang segala keinginannya harus dipenuhi juga dianggap sebagai bentuk kekafiran dan kekufuran. Dalam bahasa tegas Al Ghazali mengatakan tidaklah penting apakah kesyirikan itu dalam bentuk patung yang dipahat atau pemimpin yang mecitrakan dirinya seprti firaun. Cukuplah hati dan pikiran yang kosong dari Allah, hanya mengikuti hawa nafsu semata mata mengingat dunia dan mengingkari akhirat dan hanya mengikuiti seruan hawa nafsu belaka dapat dianggap satu bentuk kekufuran, jika tidak lantas apalagi yang pantas disebut kekufuran itu ( hal.50 ). Umat islam akan bisa selamat jika menjadikan tauhid sebagai filsafat hidup dan spirit mereka,bukan semata mata hanya jargon kosong.

Fokus kedua, Al Quran adalah alam yang menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta. keindahan dan keteraturan semesta, pergantian siang dan malam, hujan turun dari langit yang memberikan kehidupan bagi bumi, perputaran angin serta langit bumi menjadi tanda - tanda dan sekaligus menunjukkan adanya Sang Penciptanya (QS Al Jatsiah : 3–6 ) menurutnya, keterbukaan kita dalam memahami alam semesta merupakan tuntutan Al Quran (hal. 5-60). Kemunduran umat islam lebih banyak disebabkan karena mereka kurang memperhatikan dan mempelajari alam semesta (Hal. 57). Iman yang dibangun tanpa memperhatikan ayat- ayat kauniah dan tuntutan Al Quran akan berubah menjadi pemikiran yang rumit dan penalaran penalaran filsafat teoritis yang mati (Hal. 57). Umat Islam sibuk membaca kitab kitab (tauhid atau filsafat islam) yang suda mati dan mereka tidak membaca alam terkembang ini padahal Al Quran sering kali mendorong kita untuk memahami ayat – ayat kauniah ini.(Hal. 58). Menurut Al Ghazali mengaibakan dan tidak peduli untuk mengkaji alam semesta merupakan pintu kebodohan dan kesesatan. Sesungguhnya islam membangun ma'rifatnya kepada Allah dengan pemahaman yang mendalam terhadap alam dan mengkajinya terus menerus. Ilmu yang jauh dari pemahaman terhadap alam semesta merupakan penyimpamgan yang berasal dari yunani bukan metode islam dan orang orang yang begitu cenderung terhadap penyimpangan ini telah membahayakan risalah islam (Hal. 53).

Fokus ketiga adalah kisah kisah Al Quran. Al Quran memang demikian banyak menceritakan kisah kisah para nabi dan rasul dan kisah kisah umat sebelum Rasulullah. Menurutr Al Ghazali semua kisah Al Quran meskipun satu kisah diulang diulang diberbagai surat bukanlah satu bentuk pengulangan tanpa memiliki arti dan tujuan sendiri. Dengan kata lain setiap pengulangan kisah yang sama memiliki konteks dan pesan yang ingin disampaikan dan saling menyempurnakan satu sama lain. Seperti kisah Nabi Adam AS. (Hal. 83)

Menurut Al Ghazali kisah kisah Al Quran merupakan media dan alat pendidikan. Dengan memahami kisah –kisah Al Quran Kita dapat melihat bahwa penyakit sosial masyarakat memiliki kemiripan meski mereka dipisahkan oleh waktu yang sangat lama. Tuduhan penyihir dan orang gila yang dituduhkan oleh umat Nabi Nuh kepadanya sama juga dengan yang dituduhkan oleh orang Quaisyi kepada Rasulullah. Seolah -olah mereka saling berpesan untuk tuduhan yang sama (QS Azd Dzariat : 52–54). Begitu juga sikap para elit kaum nuh yng memandang rendah orang orang miskin sama dengan sikap yang ditampilkan orang Quraisy ( QS 27 : Ayat 29-30). Kisah Al Quran sebelum ia menjadi bukti historis ia merupakan penjelas bagi aqidah, adab, ibadah, dan politik. Untuk memahami kisah kisah Al Qur'an ini dengn baik,maka Al Ghazali menawarkan satu tafsir tematik yang menghimpun semua kisah –kisah yang ada dalam Al Quran agar dapat dipahami dengan baik. Tujuan utama kisah dalam Al Quran adalah agar umat islam dapat memahami sunnah sunnah Allah di alam semesta dan sunnahnya yang berlaku bagi masyarakat sehingga umat Islam tidak berupaya untuk melampuinya dan selalu sejalan dengan Sunnah Allah. Menurut Al Ghazali, kita umat islam akan bisa menguasai dunia ini dengan baik jika kita berinteraksi dengan benar terhadap sunnah sunnah Allah di alam semesta ini.

Fokus keempat adalah kebangkitan dari kubur dan pembalasannya. Ketika Allah menciptakan manusia sebenarnya manusia diciptakan untuk abadi di surga. Manusia hidup di dunia hanya untuk sementara. Al Quran banyak bicara tentang akhirat dan hisab. Ada surga yang penuh dengan nikmat dan ada neraka yang penuh dengan adzab dan kekal didalamnya hanya saja banyak manusia yang tidak percaya akan akhirat dan tidak bersiap untuk bertemu dengan Allah dan hidup di dunia dengan segala perbuaatn maksiat. Oleh karena itu Al Quran selalu menyebut dan mengulang tema kebangkitan dari kubur dan adanya hisab di Akhirat, hampir semua surat selalu menyebut masalah ini bahakn surat Al Fatihah yang dibaca dalam shalat 5 waktu menyebutkan hari pembalasan ini (Maliki Yaumiddin).

Dalam Al Quran, Allah menjelaskan bahwa Ia akan menegakkan keadilan dan menghukum orang orang zhalim: pada hari itu semua manusia akan dibalas apa yang pernah mereka lakukan.Hari itu tidak ada kezhaliman. Dan Allah sangat cepat perhitungannya (QS Al Ghofir : 17 ). Dunia ini tempat untuk menguji manusia, tempat beramal bukan untuk menerima hasil juga bukan tempat tegaknya keadilan. Banyak Para Nabi yang terbunuh, kebohongan seperti kebenaran yang tersebar luas, keseimbangan harus dikembalikan dan tempatrnya di akhirat. Al Quran menghadirkan pembicaraan tentang kiamat seolah–olah ia hadir dihadapah kita, mendidik kita bahwa setelah dunia ini ada akhirat tempat kita mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan disini,di dunia.

Pendidikan seperti apakah yang di inginkan Al Quran? Pendidikan itu adalah pendidikan rabbaniah, Peradaban yang rabbaniah, kebudayaan rabbaniah. Manusia rabbani adalah manusia yang mengetahui hakikat dirinya dan selanjutnya ia bergerak didalam kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu Al Quran banyak menyebutkan apa saja yang dicintai Allah dan apa saja yang tidak dicintai Allah. Ini menurut AL Ghazali memiliki makna tarbiyah (pendidikan). Karena seorang mukmin akan melakukan apa yang dicintai Allah dan meninggalkan apa yang dibenci Allah. Dan keduanya memiliki makna ibadah, karena ibadah tidak hanya di dalam masjid tetapi ia bisa dilakukun di segala tempat (Hal.160)

Sedangkan fokus kelima adalah dbidang pendidikan dan tasyri'. Untuk ini Al Ghazali membuat pembahasan tersendiri dan menghimpun banyak ayat perbuatan apa saja yang dicintai Allah dan apa saja yang tidak dicintai Allah. Misalnya, Allah tidak mencintai orang yang melampaui batas, Allah mencintai orang yang yang suka berbuat baik,mencintai orang yang suka bertaubat, orang bertakwa,orang yang suka bertawakal dan sebagainya. Tidak mencintai orang yang berbuat sombong, suka berbuat dosa, penghianat, suka berlebih-lebihan, suka berbuat kerusakan dan sebagainya.

Kiranya karya Al Ghazali ini perlu dikaji scara seksama oleh para santri pesantren yang ingin mempelajari tafsir atau lebih tepatnya kitab ini sebagai muqoddimah atau pengantar belajar tafsir karena sering kali kita langsung mengajarkan satu kitab tafsir kepada para santri tanpa kita memberikan satu bentuk pengantar kepada mereka bahkan mungkin kita pun tidak tahu apakah sebenarnya tema sentral atau fokus utama kandungan Al Quran itu. Paling tidak karya ini dapat membantu para pengampu tafsir dikalangan pesantren khususnya untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kajian tafsir ketika mengajar tafsir. Disinilah Urgensi karya Al Ghazali ini dan kontribusinya dalam pengembangan studi Al Quran patut untuk diapresiasi.

Tentang Kitab:
Judul
:
Al Mahawir Al Khamsah Li Al Quran Al Karim
Pengarang :
Syaikh Muhammad Al Ghazali
Penerbit
:
Dar As Syuruq, Kairo
Hal.
:
208 Halaman
Cetakan
:
I Tahun 2000

*Samito Manurung, Santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Prenggan Kotagede Jogjakarta

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Apa komentarmu...??

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda